Oleh : H. Abdul Rahim, SP
Lamanesia.com – Transformasi digital dalam pengelolaan zakat bukan lagi tren nasional, tetapi kebutuhan mendesak yang kini juga menyentuh BAZNAS Kota Jambi. Kemajuan teknologi, perubahan perilaku muzakki, serta meningkatnya tuntutan akuntabilitas membuat penguatan SDM amil menjadi faktor paling strategis. Tidak berlebihan jika banyak kajian menegaskan bahwa kualitas SDM adalah “penentu utama” efektivitas lembaga zakat.
Penelitian BAZNAS–IPB (2022) misalnya, menunjukkan bahwa literasi digital dan integritas SDM berkontribusi signifikan terhadap kinerja lembaga zakat. Dengan kata lain, modernisasi sistem hanya akan berdampak jika amil mampu mengoperasikan, memahami, dan mempertanggungjawabkannya.
Relevansi temuan ini terasa relevan di Kota Jambi. Sebagai kota perdagangan dan jasa, pola donasi masyarakat makin bergerak ke arah pembayaran digital: QRIS, transfer bank, dan layanan zakat online. Sejumlah riset seperti Abdullah & Suprayogi (2021) dalam Islamic Accounting and Finance Research menegaskan bahwa digitalisasi zakat efektif meningkatkan penghimpunan ketika SDM amil memahami manajemen data dan transparansi akuntansi syariah. Tantangannya, sebagian amil di tingkat kota dan kecamatan masih berada dalam proses adaptasi. Ada yang belum sepenuhnya menguasai sistem digital, ada pula yang belum terbiasa dengan dinamika pelayanan publik berbasis data real-time.
Pada saat yang sama, tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga zakat sangat sensitif terhadap integritas amil. Riset Adnan & Bakar (International Journal of Zakat, 2020) menunjukkan bahwa muzakki lebih memilih menyalurkan zakat melalui jalur formal ketika amil dianggap profesional, jujur, dan terbuka. Konteks Kota Jambi mempertegas hal ini, masyarakat urban menginginkan transparansi yang cepat, laporan yang mudah diakses, serta keyakinan bahwa zakat mereka berdampak nyata pada mustahik lokal. Karena itu, kapasitas amil sebagai penjaga akuntabilitas harus terus dibangun—bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga etika kerja dan disiplin tata kelola.
Namun digitalisasi zakat tidak boleh menghilangkan sisi kemanusiaan. BAZNAS Kota Jambi menghadapi realitas masyarakat mustahik yang beragam: buruh harian, pedagang kecil, pekerja informal, hingga masyarakat pinggiran Sungai Batanghari. Banyak di antara mereka memerlukan pendekatan yang tidak cukup hanya diselesaikan oleh aplikasi.
Penelitian BAZNAS RI (2023) tentang Humanity Service Index menegaskan bahwa empati amil—kemampuan mendengarkan, memahami beban psikologis mustahik, dan memberikan pendampingan jangka panjang—berpengaruh lebih besar terhadap kepuasan penerima manfaat dibanding aspek administratif. Di Kota Jambi, hal ini tampak pada program ekonomi mikro, bantuan kesehatan, dan pendampingan keluarga prasejahtera yang membutuhkan kehadiran amil sebagai mitra sosial, bukan sekadar operator bantuan.
Dalam perspektif kelembagaan, BAZNAS Kota Jambi sebenarnya memiliki peluang besar. Infrastruktur digital nasional—seperti sistem SIMPUL dan SiMBA—sudah tersedia. Tantangannya tinggal memperkuat pelatihan SDM daerah agar mampu memanfaatkan sistem tersebut secara optimal.
Program seperti Amil Academy dan sertifikasi amil yang direkomendasikan oleh Fatwa MUI No. 8/2011 dapat menjadi kerangka peningkatan kompetensi. Di sisi lain, laporan Bank Dunia (2020) mengenai human capital quality menekankan bahwa sektor sosial harus menempatkan pelatihan berkelanjutan sebagai investasi jangka panjang. Prinsip itu relevan diterapkan di Kota Jambi untuk memastikan amil lokal memiliki standar yang sama dengan amil di level nasional.
Ke depan, BAZNAS Kota Jambi perlu membangun model pengembangan SDM yang menyatukan tiga aspek, kompetensi digital, integritas tata kelola, dan empati sosial. Digitalisasi mempercepat pelayanan; integritas menjaga kepercayaan publik; sementara empati memastikan zakat benar-benar menyentuh kehidupan mustahik. Ketika tiga unsur ini menyatu, ekosistem zakat kota akan menjadi lebih responsif, adaptif, dan berdampak.
Transformasi zakat di Kota Jambi pada akhirnya tidak ditentukan oleh teknologi yang canggih, tetapi oleh manusia yang menggerakkannya. Di tengah tuntutan masyarakat urban dan tantangan sosial yang kompleks, SDM amil menjadi wajah dari amanah zakat itu sendiri. Investasi pada peningkatan kualitas amil merupakan jalan paling masuk akal untuk membawa BAZNAS Kota Jambi menjadi lembaga modern yang tetap humanis—kuat secara sistem, tetapi hangat dalam pelayanan.
*Wakil Ketua IV Baznas Kota Jambi








Discussion about this post