Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
“Pembeli sepi, padahal harga tidak naik.”
Kalimat sederhana yang disampaikan seorang pedagang pasar tradisional tersebut sesungguhnya menyimpan pesan ekonomi yang jauh lebih dalam daripada sekadar keluhan dagang sehari-hari.
Di tengah berbagai pemberitaan tentang inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang masih positif, dan stabilitas harga yang relatif terjaga, pasar justru menunjukkan gejala yang berbeda. Aktivitas jual beli tidak seramai sebelumnya. Perputaran uang melambat. Pedagang mulai mengeluhkan penurunan omzet. Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi ketika harga-harga tidak mengalami kenaikan yang berarti?
Banyak orang masih meyakini bahwa daya beli masyarakat hanya ditentukan oleh harga barang. Logika sederhananya, jika harga naik maka daya beli turun, dan jika harga stabil maka daya beli akan tetap terjaga. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Realitas ekonomi jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan antara harga dan konsumsi. Pasar yang sepi justru menunjukkan bahwa persoalan yang sedang dihadapi Indonesia bukan lagi semata-mata masalah inflasi atau harga barang, melainkan persoalan yang lebih mendasar, yaitu ketahanan struktur ekonomi masyarakat.
Inilah tesis utama tulisan ini: Indonesia mungkin berhasil mengendalikan inflasi, tetapi belum tentu berhasil menjaga daya beli masyarakat. Ketika pasar sepi di tengah harga yang relatif stabil, yang sedang melemah bukan harga barang, melainkan kemampuan ekonomi masyarakat untuk menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menopang konsumsi.
Pandangan ini tentu tidak akan diterima oleh semua pihak. Kelompok pertama berpendapat bahwa kondisi ekonomi Indonesia sesungguhnya masih cukup baik. Mereka menunjuk berbagai indikator makroekonomi yang menunjukkan stabilitas. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai sekitar 5,11 persen. Tingkat inflasi tahunan juga relatif terkendali di bawah 3 persen. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dari perspektif ini, tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat sedang mengalami masalah serius.
Kelompok kedua mengambil posisi yang berlawanan. Mereka melihat pasar yang sepi sebagai bukti bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang memburuk. Menurut kelompok ini, lemahnya transaksi perdagangan menunjukkan bahwa masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluhan para pedagang pasar, pelaku UMKM, dan usaha kecil dianggap sebagai bukti bahwa pertumbuhan ekonomi yang selama ini dibanggakan belum benar-benar dirasakan oleh masyarakat bawah.
Kedua pandangan tersebut memiliki dasar argumentasi masing-masing. Namun keduanya juga mengandung kelemahan. Kelompok pertama terlalu bergantung pada indikator makro dan sering menganggap angka statistik sebagai representasi sempurna dari realitas ekonomi masyarakat. Sebaliknya, kelompok kedua sering menarik kesimpulan yang terlalu jauh hanya berdasarkan fenomena yang terlihat di lapangan. Posisi yang lebih tepat justru berada di tengah, yaitu dengan menggugat kedua cara pandang tersebut sekaligus.
Pertumbuhan ekonomi memang masih terjadi. Inflasi juga relatif terkendali. Akan tetapi, stabilitas makro tidak otomatis berarti kesejahteraan masyarakat meningkat. Pada saat yang sama, pasar yang sepi juga tidak otomatis berarti Indonesia sedang memasuki krisis ekonomi. Yang sedang terjadi sesungguhnya adalah munculnya kesenjangan antara keberhasilan ekonomi makro dan pengalaman ekonomi masyarakat sehari-hari.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui struktur ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Selama bertahun-tahun, lebih dari separuh aktivitas ekonomi nasional ditopang oleh belanja masyarakat. Ketika konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54 persen terhadap PDB, maka kesehatan ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk terus berbelanja. Persoalannya, kemampuan tersebut tidak hanya ditentukan oleh harga barang, tetapi juga oleh pendapatan, kualitas pekerjaan, beban utang, serta keyakinan terhadap masa depan ekonomi.
Di sinilah akar persoalan mulai terlihat. Banyak rumah tangga saat ini menghadapi tekanan pengeluaran yang semakin besar. Biaya pendidikan terus meningkat. Biaya kesehatan semakin mahal. Pengeluaran transportasi bertambah. Cicilan rumah, kendaraan, dan berbagai bentuk kredit konsumsi menyerap sebagian besar pendapatan masyarakat. Akibatnya, meskipun harga kebutuhan pokok relatif stabil, ruang fiskal rumah tangga untuk melakukan konsumsi semakin sempit.
Kondisi tersebut diperparah oleh pertumbuhan pendapatan yang tidak selalu sejalan dengan kenaikan kebutuhan hidup. Banyak masyarakat masih bekerja pada sektor informal dengan tingkat produktivitas yang rendah. Sebagian lainnya memang bekerja, tetapi mengalami kondisi setengah menganggur atau memperoleh penghasilan yang tidak cukup untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam situasi seperti ini, masyarakat cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka tetap datang ke pasar, tetapi membeli dalam jumlah yang lebih sedikit. Mereka tetap berbelanja, tetapi hanya untuk kebutuhan yang dianggap paling penting.
Pedagang pasar menjadi kelompok yang paling cepat merasakan perubahan perilaku tersebut. Mereka melihat secara langsung bagaimana konsumen mulai mengurangi volume pembelian. Sebelumnya membeli lima kilogram beras, kini membeli tiga kilogram. Sebelumnya membeli buah-buahan, makanan tambahan, atau kebutuhan sekunder lainnya, kini hanya fokus pada kebutuhan pokok. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam statistik nasional, tetapi sangat nyata dirasakan oleh para pedagang.
Fenomena ini juga menunjukkan kelemahan cara berpikir ekonomi yang terlalu berfokus pada inflasi. Selama ini keberhasilan ekonomi sering diukur dari kemampuan mengendalikan kenaikan harga. Padahal pedagang pasar tidak hidup dari rendahnya inflasi. Pedagang hidup dari transaksi yang terjadi setiap hari. Mereka tidak memperoleh keuntungan karena angka inflasi turun, tetapi karena masyarakat datang dan membeli barang yang mereka jual. Ketika statistik menunjukkan inflasi rendah tetapi pasar tetap sepi, maka pertanyaan yang perlu diajukan bukan apakah pedagang salah membaca ekonomi, melainkan apakah indikator yang selama ini digunakan sudah cukup mampu menangkap realitas ekonomi masyarakat.
Bagi daerah-daerah berbasis komoditas seperti Provinsi Jambi, persoalan ini menjadi lebih penting lagi. Perekonomian daerah sangat dipengaruhi oleh pendapatan yang berasal dari sawit, karet, batu bara, migas, dan sektor primer lainnya. Ketika pendapatan petani atau pelaku usaha daerah mengalami tekanan, dampaknya langsung terasa pada aktivitas perdagangan lokal. Pasar tradisional menjadi tempat pertama yang memperlihatkan gejala perlambatan ekonomi sebelum data statistik resmi diterbitkan.
Karena itu, pasar tidak boleh dipandang sekadar sebagai tempat transaksi jual beli. Pasar adalah barometer ekonomi rakyat. Pasar adalah ruang tempat daya beli diuji setiap hari. Pasar juga merupakan cermin paling jujur yang memperlihatkan hubungan antara pendapatan masyarakat dan aktivitas ekonomi yang sesungguhnya.
Keluhan seorang pedagang yang mengatakan bahwa pembeli sepi meskipun harga tidak naik seharusnya menjadi bahan refleksi bagi para pengambil kebijakan. Fokus pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti pada pengendalian inflasi semata. Penciptaan lapangan kerja produktif, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan UMKM, hilirisasi industri daerah, dan perluasan nilai tambah ekonomi lokal harus menjadi agenda yang sama pentingnya.
Barangkali sudah saatnya pemerintah lebih sering mendengar suara pasar daripada sekadar membaca angka statistik. Sebab sebelum perlambatan ekonomi muncul dalam laporan resmi, ia biasanya lebih dahulu hadir dalam keluhan pedagang kecil. Ketika pasar mulai sepi sementara harga tetap stabil, sesungguhnya ekonomi sedang menyampaikan pesan penting: persoalan terbesar bukan lagi seberapa mahal barang dijual, melainkan seberapa kuat masyarakat mampu membeli. Ketika kemampuan membeli mulai melemah, yang sedang diuji bukan pasar, melainkan ketahanan ekonomi bangsa itu sendiri. (*)
*) Penulis Adalah Guru Besar Universitas Jambi, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi













Discussion about this post