Lamanesia.com – Banjir besar yang melanda Desa Lubuk Mandarsah, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, menimbulkan dampak serius. Selain merendam ratusan rumah warga, bencana ini juga melumpuhkan akses vital Jalan Nasional yang menghubungkan Kabupaten Tebo dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Data terbaru mencatat sebanyak 141 rumah warga terdampak banjir. Sementara itu, ruas strategis Simpang Niam–Lubuk Kambing tidak dapat dilalui di sejumlah titik akibat genangan air yang tinggi.
Wakil Bupati Tebo, Nazar Efendi, mengungkapkan terdapat tiga titik banjir terparah, yakni di Dusun Tanjung Pauh, Dusun Lubuk Punggur, dan Dusun Sungai Landai atau Simpang PT Wira Karya Sakti (WKS).
“Titik terparah berada di Dusun Sungai Landai. Kendaraan sama sekali tidak bisa melintas karena ketinggian air mencapai satu hingga dua meter,” ujarnya saat meninjau lokasi, Sabtu (18/4/2026).
Selain itu, akses utama di Dusun Lubuk Punggur dilaporkan terputus total. Jalur tersebut merupakan penghubung penting antara Desa Lubuk Mandarsah menuju Desa Kunangan dan Kelurahan Sungai Bengkal.
Meski belum ada laporan korban jiwa, aktivitas masyarakat terganggu signifikan akibat terputusnya jalur transportasi utama. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang hendak melintas di kawasan terdampak.
Kepala Desa Lubuk Mandarsah, Zulpan, menjelaskan banjir terjadi akibat limpahan air dari kawasan hulu Bukit Tiga Puluh. Ia menyoroti berkurangnya vegetasi sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya risiko banjir.
“Banyak pohon di kawasan hulu yang sudah ditebang, sehingga kemampuan tanah menahan air berkurang dan wilayah hilir seperti desa kami terus terdampak,” jelasnya.
Sebagai langkah penanganan, pemerintah desa mengusulkan peninggian badan jalan di titik rawan banjir, khususnya di Dusun Sungai Landai dan Lubuk Punggur. Sementara untuk jangka panjang, direncanakan normalisasi daerah aliran sungai (DAS) serta program penghijauan kembali di kawasan hulu.
Warga yang hendak melintas di jalur Lubuk Mandarsah–Lubuk Kambing disarankan menggunakan jalur alternatif melalui Bukit Rinting menuju Dusun Pelayang Tebat. Adapun kendaraan bertonase berat diminta menunda perjalanan hingga kondisi kembali normal.
Bencana ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan, khususnya di kawasan hulu, guna mencegah dampak banjir yang lebih luas di masa mendatang. (Rdi)











Discussion about this post