Lamanesia.com – ISNU Jambi mengikuti Rangkaian Kegiatan Worksop Agen Literasi Anti Kekerasan perermpuan dan anak PP ISNU yang menghadirkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Ibu Arifah Choiri Fauzi.
Workshop Anti Kekerasan Perempuan & Anak PP ISNU bertempat di Grand Orchardz Kemayoran Hotel Jakarta yang diikuti sekitar 40 orang peserta aktif.
Pada sambutanya Bu Menteri Arifah menceritakan kisah nyata fenomena relasi kuasa dalam budaya patriakhi di Indonesia yang sangat kental, Inces sebagai suatu perkawinan dalam ikatan keluarga di era digital akan semakin sering terjadi, akibat factor kerapuhan idiologi, kontruksi social dan relasi kuasa serta kekerasan dan diskriminasi , dan ketidakadilan gender menjadi fakta hukum yang banyak menimpa Masyarakat Indonesia.
Pada suatu fakta hukum, diceritakan Bu Arifah selaku Menteri PPPA bahwa telah terjadi anak perempuan dihamili oleh bapak sambungnya dan berakibat anak hamil telah 7 (tujuh) bulan, Ketika sang istri ditanya ? apakah ibu tidak mengetahui gejala dan prilaku suami ibu yang telah menghamili anaknya. Sang ibu yang juga sebagai tulang punggung keluarga dengan tenang dan menjawab sudah terlanjur suaminya menghamili anaknya.
Pada situasi yang demikian sekalipun Perempuan tidak dapat mengambil Keputusan untuk bercerai misalnya, karena berbakti dan patuh dipandang masih sebagai perbuatan mulia. Suatu idiologi pakem agama yang dipandang apapun kondisi Perempuan harus rela menderita sepanjang kehidupannya.
Dengan nada miris bu Menteri Arifah melihat, bagaimana masyarakat di Indonesia yang masih berhadapan dengan persoalan krusial Inces sebagai bagian dalam persoalan keluarga, dan dipastikan kondisi di atas baik sang anak maupun sang ibu dan cucunya akan mengalami kekerasan sepanjang hajatnya, bagaimana kelak anak yang dilahirkan memanggil sang kakek yang juga sebagai bapak dan bagaimana pula sang nenek akan berhadapan dengan cucu dan sekaigus anak dari suaminya. Suatu idiologi , relasi kuasa dan fenomena budaya patriakhi yang masih sangat kental dalam kehidupan Masyarakat kita.
Inces dalam banyak kasus tidak hanya terjadi pada perkawinan sedarah dengan pupuan atau saudara dekat, karena takut hartanya jatuh ke orang lain tetap juga pada perkawinan dalam ikatan keluarga. Dipastikan perkawinan Inces akan melahirkan keturunan yang nyaris bermasalahan dalam tumbuh kembang anak dan mencindrai masa depan anak.
Kekerasan dalam rumah tangga seumur-umur ini, tentu akan bermpak pada kualitas manusia yang rendah, karenanya peran ulama, peran pemerintah dan negara dalam literasi keluarga perlu dilakukan secara terus menerus. Stop Inces.Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan anak dan Laporkan dan jangan normalisasikan kekerasan dan Lawan.
*Elita Rahmi, Ketua Wilayah ISNU Jambi









Discussion about this post