Lamanesia.com – Gaya hidup modern yang identik dengan kebiasaan duduk terlalu lama, minim aktivitas fisik, hingga sering mengabaikan keluhan nyeri menjadi perhatian para dokter spesialis di Siloam Hospitals Jambi. Melalui kegiatan Health Talk yang digelar Sabtu (25/7/2026), masyarakat diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan tulang belakang sekaligus mengenali tanda bahaya nyeri perut yang tidak boleh dianggap sepele.
Dalam sesi bertajuk “Back to Healthy Spine: Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang Belakang di Era Modern”, dokter spesialis ortopedi, dr. Husnul Verdian, Sp.OT, menegaskan bahwa tulang belakang merupakan penopang utama hampir seluruh aktivitas tubuh. Karena itu, menjaga kesehatannya sejak dini jauh lebih penting dibandingkan menunggu hingga muncul gangguan yang lebih berat.
Menurut dr. Husnul, hasil pemeriksaan MRI yang menunjukkan adanya kelainan pada tulang belakang tidak serta-merta menjadi alasan seseorang harus menjalani operasi. Keputusan tindakan bedah harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, tingkat nyeri, serta gangguan fungsi yang dialami.
“Kalau pasien tidak merasakan nyeri atau gangguan fungsi, belum tentu memerlukan operasi. Penanganan dilakukan secara bertahap, mulai dari upaya pencegahan, terapi konservatif, fisioterapi, hingga tindakan operasi jika memang diperlukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, aktivitas fisik secara rutin menjadi langkah paling efektif untuk menjaga kesehatan tulang belakang. Otot-otot yang kuat akan membantu menopang tulang belakang sehingga beban kerja berkurang dan risiko cedera maupun nyeri kronis dapat diminimalkan.
Sementara itu, dokter spesialis bedah dr. Jonathan Alvin Nugraha Halim, M.Biomed., Sp.B, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan nyeri perut yang muncul berulang. Menurutnya, keluhan tersebut dapat menjadi gejala berbagai penyakit, mulai dari batu empedu hingga radang usus buntu.
Ia menjelaskan, radang usus buntu memang paling sering menyerang kelompok usia 10 hingga 30 tahun. Namun, penyakit tersebut tetap dapat terjadi pada usia yang lebih tua sehingga pemeriksaan medis sejak dini sangat penting untuk mengetahui penyebab nyeri dan mencegah komplikasi.
“Tanda bahaya yang perlu diwaspadai adalah nyeri yang semakin berat hingga membuat pasien sulit bergerak. Kondisi seperti ini jangan dibiarkan karena bisa mengarah pada keadaan yang lebih serius,” ujarnya.
Dalam penanganan kasus bedah, Siloam Hospitals Jambi juga telah memanfaatkan teknologi operasi minimal invasif (laparoskopi). Teknik ini memungkinkan dokter melakukan tindakan melalui sayatan kecil dengan bantuan kamera khusus, sehingga risiko infeksi lebih rendah, rasa nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta proses pemulihan pasien berlangsung lebih cepat dibandingkan operasi terbuka.
Kegiatan edukasi ini menjadi bagian dari komitmen Siloam Hospitals Group dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Sebagai jaringan rumah sakit yang mengoperasikan 41 rumah sakit di Indonesia, Siloam terus menghadirkan edukasi kesehatan yang mudah dipahami agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya pencegahan dan deteksi dini berbagai penyakit. (Rdi)











Discussion about this post