Mengabarkan Nusantara
No Result
View All Result
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
No Result
View All Result
Mengabarkan Nusantara
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN
Home Opini

Merayakan Hari Pancasila Bukan dengan Upacara, Membaca Ulang Lima Sila: Antara Idealitas dan Realitas

by Admin
01/06/2026
in Opini
Dr. Mochammad Farisi. (Dok: Redaksi)

Dr. Mochammad Farisi. (Dok: Redaksi)

0
SHARES
0
VIEWS
Views: 1,039

Oleh: Mochammad Farisi

Artikelterkait

Kapolres Muaro Jambi Pimpin Langsung Rakor PPKM di Sungai Bahar

Kapolres Merangin Ajak Kaum Milenial Patuhi Prokes Melalui Event Game Online FreeFire

Ketua DPRD Sarolangun Raih Penghargaan Jambi Awards 2021

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa ini memperingati Hari Lahir Pancasila. Kantor-kantor memasang spanduk raksasa. Sekolah dan kampus menggelar upacara. Media sosial dipenuhi ucapan nasionalisme. Para pejabat mengenakan pakaian adat berdiri khidmat di podium kehormatan.

Namun, di banyak lapangan upacara, realitasnya sering berbeda. Yang serius hanya beberapa baris di depan. Di belakang, peserta sibuk berbincang, memainkan telepon genggam, bahkan merokok saat penghormatan berlangsung. Upacara tetap berjalan, tetapi nilai yang diperingati perlahan kehilangan makna.

Ironisnya, bangsa ini mungkin tidak kekurangan seremoni Pancasila, tetapi kekurangan pengamalannya.

Upacara Tidak Salah, Tetapi Tidak Cukup

Tentu saja, upacara dan simbol kenegaraan bukan sesuatu yang salah. Bangsa besar memang membutuhkan simbol, ritual, dan penghormatan terhadap sejarahnya. Tetapi masalah muncul ketika Pancasila berhenti sebagai nilai hidup dan hanya berubah menjadi dekorasi tahunan: dibaca saat apel, lalu dilupakan ketika kekuasaan dijalankan.

Padahal, merayakan Hari Lahir Pancasila seharusnya bukan sekadar berdiri tegak di lapangan upacara, melainkan menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Membaca Ulang Lima Sila: Antara Idealitas dan Realitas

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, seharusnya melahirkan bangsa yang bermoral, jujur, dan berintegritas. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling religius di dunia. Rumah ibadah tumbuh di mana-mana. Kegiatan keagamaan ramai dipadati jamaah. Simbol agama hadir hampir di seluruh ruang publik.

Namun pada saat yang sama, korupsi justru tetap merajalela. Transparency International mencatat skor Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia tahun 2025 hanya berada pada angka 34 dari 100 dan turun ke peringkat 109 dunia. Artinya, religiusitas sosial belum otomatis melahirkan moralitas publik.

Agama sering kali ditampilkan secara simbolik, tetapi belum sepenuhnya dihadirkan dalam perilaku politik dan tata kelola pemerintahan. Kita rajin mengutip ayat tentang kejujuran, tetapi masih permisif terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Kita fasih berbicara tentang dosa, tetapi sering diam terhadap ketidakadilan.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, juga menghadapi paradoks serius. Bangsa yang dikenal santun justru semakin mudah menghina sesama di media sosial. Kekerasan verbal menjadi tontonan harian. Perundungan terhadap anak meningkat. Empati sosial terkikis oleh budaya saling menyerang dan polarisasi.

Dalam banyak kasus, hukum terasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas, bahkan saat ini tajam kesamping (lawan politik) dan tumpul ke samping (kawan koalisi).

Rakyat kecil dihukum cepat karena kesalahan kecil, sementara pelaku kejahatan besar sering memperoleh ruang negosiasi kekuasaan. Padahal, sila kemanusiaan bukan hanya soal belas kasihan, tetapi tentang menghadirkan keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, juga menghadapi ancaman yang tidak kecil. Persatuan memang masih ada, tetapi perlahan menjadi rapuh dan keropos. Yang mengancam persatuan bangsa hari ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan ketidakadilan sosial, kesenjangan ekonomi, dan politik identitas yang terus dipelihara.

Persatuan bangsa tidak runtuh karena keberagaman, tetapi karena sebagian rakyat merasa tidak diperlakukan adil. Ketika hukum dianggap berpihak kepada pemilik kekuasaan dan ekonomi hanya dinikmati kelompok tertentu, rasa memiliki terhadap bangsa perlahan memudar.

Musuh terbesar persatuan hari ini justru sering lahir dari bangsa sendiri: korupsi, oligarki, intoleransi, dan elite politik yang memecah masyarakat demi elektoral jangka pendek.

Sila keempat bahkan mengalami paradoks yang lebih tajam. Indonesia memang rutin menyelenggarakan pemilu, tetapi demokrasi tidak cukup diukur dari hadirnya bilik suara. Demokrasi seharusnya menghadirkan hikmat, kebijaksanaan, dan kedaulatan rakyat yang sejati.

Yang terjadi justru sering sebaliknya. Politik uang menjadi rahasia umum. Mahar politik tetap hidup. Kandidat yang memiliki modal besar lebih mudah memperoleh kendaraan politik dibanding mereka yang memiliki kapasitas dan integritas.

Kajian akademik terbaru bahkan menegaskan bahwa money politics masih menjadi akar persoalan demokrasi Indonesia pada Pemilu 2019 dan semakin ugal-ugalan terjadi di 2024. Praktik tersebut merusak prinsip pemilu yang bebas dan adil serta mendorong lahirnya korupsi politik.

Demokrasi akhirnya berubah menjadi prosedur lima tahunan yang mahal, tetapi miskin kebijaksanaan. Musyawarah digantikan transaksi. Kedaulatan rakyat digeser oleh kekuatan modal.

Sementara itu, sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bangsa ini. Kesenjangan ekonomi masih nyata. Pendidikan berkualitas belum sepenuhnya merata. Akses kesehatan masih timpang. Di banyak daerah khususnya wilayah timur, rakyat kecil harus berjuang keras hanya untuk memperoleh layanan dasar yang layak.

Ironis ketika profesi pendidik yang membentuk masa depan bangsa masih menghadapi persoalan kesejahteraan, sementara praktik pemborosan anggaran dan korupsi tetap terjadi di berbagai sektor.

Keadilan sosial juga tidak dapat dipisahkan dari keadilan ekologis. Pembangunan yang merusak lingkungan demi keuntungan jangka pendek sesungguhnya bertentangan dengan semangat Pancasila. Negara tidak boleh mengejar pertumbuhan ekonomi sambil mengorbankan hutan, sungai, masyarakat adat, dan masa depan generasi berikutnya.

Lalu Bagaimana Seharusnya Merayakan Hari Lahir Pancasila?

Karena itu, merayakan Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti pada upacara dan slogan. Pemerintah harus menghadirkannya dalam kebijakan nyata. Pancasila harus diwujudkan melalui pemerintahan yang bersih, pelayanan publik yang adil, penegakan hukum tanpa tebang pilih, perlindungan lingkungan hidup, dan keberanian memberantas korupsi secara serius.

Pengesahan undang-undang perampasan aset hasil korupsi, reformasi partai politik, penguatan pendidikan karakter, hingga keberanian menindak koruptor tanpa kompromi merupakan bentuk nyata merayakan Pancasila.

Partai politik juga harus berhenti menjadikan demokrasi sekadar transaksi kekuasaan. Mereka seharusnya menjadi tempat lahirnya pemimpin yang berintegritas, bijaksana, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Kampus dan sekolah pun perlu berhenti memaknai Pancasila sekadar hafalan dan lomba seremonial. Pancasila harus dihidupkan melalui budaya berpikir kritis, kejujuran akademik, toleransi, dan kepedulian sosial.

Pada akhirnya, Pancasila tidak membutuhkan lebih banyak spanduk dan baliho. Pancasila membutuhkan lebih banyak kejujuran, keadilan, dan keberanian moral.

Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti di lapangan upacara. Ia harus hidup di ruang kelas, di pengadilan, di parlemen, di media sosial, di birokrasi, dan terutama di hati para penyelenggara negara.

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang yang hafal Pancasila. Bangsa ini hanya terlalu kekurangan orang yang sungguh menjalankannya.

Penulis adalah Direktur Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan (Pusakademia) 

Tags: ##haripancasila

Related Posts

Hukum

Kapolres Muaro Jambi Pimpin Langsung Rakor PPKM di Sungai Bahar

by Admin
08/07/2021
0

MUARO JAMBI - Bertempat di Aula Kantor Camat Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Muaro Jambi AKBP...

Read more
Daerah

Kapolres Merangin Ajak Kaum Milenial Patuhi Prokes Melalui Event Game Online FreeFire

by Admin
27/06/2021
0

Merangin - Kapolres Merangin AKBP Irwan Andy Purnamawan membuka secara resmi turnamen Kapolres Cup FreeFire secara online melalui zoom meeting...

Read more
Ketua DPRD Sarolangun, Tontawi Jauhari beserta istri dan staff. (Dok. Istimewa)
Daerah

Ketua DPRD Sarolangun Raih Penghargaan Jambi Awards 2021

by Admin
01/05/2021
0

SAROLANGUN - Bertepatan di Hotel Aston Jambi, sebanyak 12 orang meraih penghargaan Jambi award 2021 dengan kategori politisi millenial terbaik,...

Read more
Daerah

Diduga PT. KBD Lakukan Pungli Terhadap Penerima Karyawan

by Admin
10/03/2021
0

SAROLANGUN - Banyaknya investor yang berinvestasi di Bumi Sepucuk Adat Serumpun Pseko, tentu membawa dampak negatif terhadap masyarakat sekitar, setidaknya...

Read more
Nasional

12 Tahun Pernikahan, Wulan Guritno Gugat Cerai Suami

by Admin
02/03/2021
0

Lamanesia.com - Kabar tak sedap datang dari kalangan selebritis, secara mengejutkan  Wulan Guritno menngugat cerai suaminya Adilla Dimitri. Pasangan yang...

Read more
Next Post

PEMERINTAH KABUPATEN TANJAB BARAT MENGUCAPKAN SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA TAHUN 2026

Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried saat menghadiri peluncuran Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek) bagi Pekerja Rentan Kota Jambi Tahun 2026 di Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi. (Dok: Redaksi)

Ketua DPRD Kota Jambi Apresiasi Program Jamsostek Gratis

Pelaku dan barang bukti saat ditampilkan di Satresnarkoba Polresta Jambi. (Dok: Redaksi)

Satresnarkoba Polresta Jambi Ringkus Pengedar Sabu di Paal Merah, Delapan Paket Narkotika Disita

Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin, S.I.P., M.M. memimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 di Lapangan Kantor Gubernur Jambi, Senin (1/6/2026). (Dok: Rahmat)

Danrem 042/Gapu Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Gaungkan Semangat Persatuan dari Jambi

Wali Kota Jambi Dr. H. Maulana, M.K.M. memimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 di Lapangan Kantor Wali Kota Jambi. (Dok: Rahmat)

Hari Lahir Pancasila 2026 di Kota Jambi, Wali Kota Maulana Ajak Warga Hidupkan Semangat Gotong Royong dan Persatuan

Discussion about this post

November 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
« Okt    

TERPOPULER

  • Ini Dia 10 Situs Banyak Dikunjungi Netizen, Dua Diantaranya Situs Porno!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Pembacokan Gara-gara Turnamen Futsal Meninggal Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemilik Lemang Simpang Kota Baru Meninggal Gantung Diri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Delapan Pengguna Narkoba Ditangkap di Base Camp

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ustadz Abdul Somad Akan Nikahi Gadis 19 Tahun Bulan Mei Besok

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Innalilahi, Anak Bungsu Walikota Jambi Meninggal Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aliansi Rakyat Jambi, Minta Bawaslu RI Ambil Alih Kasus Dugaan Kecurangan Pilgub Jambi 2020

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Isak Tangis Orangtua Kesulitan Bayar Biaya Pengobatan Anaknya yang Menjadi Korban Pembacokan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Debt Collector Gelapkan Mobil Nasabah, Polisi Telusuri Keterlibatan Leasing

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Temukan 7 Paket Sabu Siap Jual, Ardiansyah Ditangkap Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Mengabarkan Nusantara

©2026 Lamanesia -- Jalan Kana III, No 16, RT 09, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Developed by Ara.

  • Beranda
  • Disclaimer
  • Hak Jawab & Koreksi Berita
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang Kami

Media sosial

No Result
View All Result
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PARLEMEN
  • PEMERINTAHAN