Lamanesia.com – Upaya pelestarian budaya lokal di Kabupaten Merangin terus diperkuat melalui inovasi kreatif berbasis kearifan tradisional. Sanggar Seni dan Budaya Batin Penghulu, dengan dukungan dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan, menggelar pelatihan membatik motif ukiran khas Rumah Tuo di Situs Budaya Rumah Tuo Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Senin (27/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh 20 peserta dari berbagai kalangan. Pelatihan ini tidak hanya bertujuan mengembangkan desain batik berbasis budaya lokal, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam menjaga warisan leluhur sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.
Wakil Bupati Merangin, Abdul Khafidh, saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan budaya daerah. Ia menekankan bahwa batik motif Rumah Tuo harus menjadi kebanggaan sekaligus identitas khas Merangin.
“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan keterampilan, tetapi bagian dari upaya nyata pelestarian budaya yang berkelanjutan. Kita ingin masyarakat semakin mencintai dan mengembangkan batik khas daerah,” ujarnya.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan, di antaranya Ketua TP PKK Lavita Syukur, perwakilan UNESCO Global Geopark, serta unsur pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Ketua Sanggar Seni dan Budaya Batin Penghulu, Febra Moyu, menjelaskan bahwa motif ukiran Rumah Tuo memiliki nilai filosofis yang mendalam. Setiap ornamen mencerminkan kehidupan sosial, kepercayaan, serta hubungan manusia dengan alam yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, kekayaan budaya tersebut tersebar di tiga kawasan utama, yakni Rumah Tuo di Tabir, Jangkat, dan Renah Pembarap. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi, eksistensi motif tradisional menghadapi tantangan serius, mulai dari minimnya dokumentasi hingga terbatasnya regenerasi pengrajin.
“Jika tidak dilestarikan secara sistematis, warisan ini berpotensi hilang dan hanya menjadi catatan sejarah,” ungkapnya.
Karena itu, pelatihan membatik ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi dalam bentuk yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Selain pelatihan, kegiatan juga diramaikan dengan lomba membatik bertema “Rumah Adat Warisan Budaya Nusantara” yang diikuti berbagai sanggar dan pelajar.
Melalui kegiatan ini, diharapkan motif ukiran Rumah Tuo tidak hanya lestari, tetapi juga berkembang menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi yang mampu bersaing di tingkat nasional. (den)








Discussion about this post