Lamanesia.com – Harapan puluhan ribu mahasiswa dan warga Mendalo untuk terbebas dari kemacetan semakin besar seiring rencana pelebaran jalan menuju akses Tol Pijoan. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Jambi menegaskan bahwa proyek ini hanya bisa terlaksana bila pemerintah daerah ikut mengambil peran, khususnya dalam penyediaan lahan.
Kepala BPJN Jambi, Dedy Hariadi, mengatakan pihaknya sejak awal melihat potensi kemacetan besar di kawasan Simpang Mendalo begitu pintu Tol Pijoan beroperasi. Mobilitas kendaraan keluar masuk tol diprediksi menjadi pemicu utama penyumbatan arus lalu lintas di ruas tersebut.
“Kemacetan sulit dihindari karena kepadatan kendaraan nanti akan bertemu di titik yang sama. Untuk itu kami siapkan feasibility study soal pengembangan jalan dua jalur dua lajur sepanjang 8 kilometer,” ujar Dedy, Kamis (27/11).
BPJN kini sedang menuntaskan desain dan persiapan teknis. Namun tanpa dukungan Pemkab Muaro Jambi dalam pembebasan lahan, proyek ini tidak akan bergerak.
“FS siap, tapi kalau lahannya tidak siap, kami juga tidak bisa jalan,” tegas Dedy.
Dorongan pelebaran jalan juga datang dari Anggota Komisi V DPR RI, Edi Purwanto, yang menilai kebutuhan ini sangat mendesak mengingat kawasan Mendalo merupakan pusat aktivitas lebih dari 57 ribu mahasiswa dari UNJA dan UIN Jambi, ditambah sekolah-sekolah unggulan seperti MAN Cendekia dan SMAN Titian Teras.
“Setiap hari volume kendaraan naik, sementara jalan makin terasa sempit. Saya sudah sampaikan ke Menteri PUPR agar pelebaran ini jadi prioritas nasional,” kata Edi.
Dalam jam sibuk, Mendalo kerap mengalami macet panjang hingga memakan waktu 30–45 menit untuk menempuh jarak beberapa kilometer. Tak jarang pula terjadi kecelakaan akibat kepadatan dan manuver pengendara yang tak terhindarkan.
Dengan kehadirannya sebagai jalur penghubung kampus, permukiman, dan akses tol, masyarakat berharap pemerintah pusat dan daerah mempercepat realisasi pelebaran tersebut agar arus orang dan barang berjalan aman dan lancar. (Rdi)













Discussion about this post