Lamanesia.com – Dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan di berbagai wilayah mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat dinilai menjadi kunci membangun ketahanan daerah terhadap perubahan iklim.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi sekaligus Kepala Stasiun Koordinator BMKG Provinsi Jambi, Ibnu Sulistyono, mengatakan perubahan iklim merupakan tantangan global yang tidak bisa ditangani oleh satu lembaga saja. Menurutnya, diperlukan kerja sama lintas sektor agar langkah mitigasi dan adaptasi dapat berjalan secara optimal.
“Pengendalian iklim dan adaptasi terhadap dampaknya membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan akademisi. Semua memiliki peran dalam menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujar Ibnu, Minggu (5/7/2026).
Ia menjelaskan, kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan literasi iklim, pemanfaatan informasi cuaca dan iklim, serta penyusunan kebijakan yang berbasis data. BMKG, kata dia, terus menyediakan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika yang dapat menjadi acuan bagi pemerintah maupun masyarakat dalam mengambil keputusan.
“Informasi cuaca dan iklim yang kami sediakan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, akademisi, pelaku usaha maupun masyarakat untuk menyusun langkah mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim,” katanya.
Sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, BMKG juga menjalankan program Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman petani dan nelayan agar mampu menyesuaikan aktivitas mereka dengan kondisi cuaca yang terus berubah.
“Tujuan utamanya adalah agar masyarakat memahami informasi iklim dan mampu menyesuaikan aktivitas mereka dengan kondisi cuaca. Petani dapat memanfaatkan informasi iklim untuk kegiatan pertanian, sementara nelayan bisa memahami informasi cuaca maritim sebelum melaut,” jelasnya.
Selain memberikan edukasi, BMKG juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta berbagai instansi yang bergerak di sektor pertanian, kelautan, dan kebencanaan guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim.
Menurut Ibnu, ancaman perubahan iklim akan semakin besar apabila tidak diimbangi dengan kesiapan masyarakat dan kebijakan yang berbasis informasi ilmiah.
“Perubahan iklim sudah nyata. Karena itu diperlukan langkah bersama, mulai dari mengurangi dampak perubahan iklim, meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana, hingga membangun sistem yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan berbagai layanan informasi BMKG, termasuk aplikasi Info BMKG, untuk memperoleh informasi cuaca secara cepat dan akurat sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana akibat cuaca ekstrem.
“Kesadaran dan kepedulian terhadap perubahan iklim harus dibangun bersama. Dengan kolaborasi semua pihak, kita dapat memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim di Provinsi Jambi maupun Indonesia secara umum,” pungkasnya. (Rdi)













Discussion about this post