Lamanesia.com – Seorang jemaah haji asal Kabupaten Kerinci, Iskandar Ahmad (74), yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) BTH 22, langsung mendapat penanganan medis setibanya di Jambi. Lansia tersebut dirujuk ke RS Arafah Kota Jambi setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah akibat mengalami stroke.
Iskandar tiba di Asrama Haji Antara Jambi pada Rabu sore (1/7) setelah menempuh perjalanan dari Madinah melalui Debarkasi Surabaya. Sesaat setelah tiba, Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Jambi bersama Kemenhaj Kabupaten Kerinci bergerak cepat berkoordinasi dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Jambi guna memastikan proses rujukan berjalan aman dan lancar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Iskandar didiagnosis mengalami hemiparese, yakni kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh akibat penyakit serebrovaskular atau stroke. Kondisi tersebut pertama kali terdeteksi pada 17 Mei 2026 saat masih berada di Tanah Suci.
Meski demikian, tim medis memastikan penyakit yang dideritanya tidak menular dan tidak membahayakan penumpang lain selama penerbangan. Sebelum dipulangkan ke Indonesia, Iskandar juga telah dinyatakan laik terbang berdasarkan dokumen Medical Information Form (MEDIF) yang diterbitkan dokter spesialis saraf KKHI, Dr. Emy Wardani, pada 25 Juni 2026.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenhaj Jambi, H. Yan Apriadi, menjelaskan bahwa dokumen MEDIF merupakan persyaratan penting bagi maskapai untuk memastikan penumpang dengan kondisi kesehatan khusus dapat melakukan perjalanan udara secara aman.
Ia menambahkan, pihaknya telah melakukan koordinasi sejak awal dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) serta Balai Kekarantinaan Kesehatan di Batam dan Surabaya agar proses penanganan medis dapat dilakukan segera setelah pesawat mendarat.
Selain itu, informasi mengenai kondisi kesehatan Iskandar juga disampaikan secara berkala kepada tim operasional bandara di Debarkasi Surabaya sebagai bagian dari persiapan teknis selama proses pemulangan.
“Saat ini yang bersangkutan masih menjalani perawatan di RS Arafah sebelum nantinya dipulangkan kepada keluarga. Kondisinya terus dipantau oleh Kemenhaj Kabupaten Kerinci,” ujar Yan Apriadi.
Dengan koordinasi lintas instansi tersebut, proses kepulangan jemaah haji yang membutuhkan penanganan khusus dapat berlangsung dengan aman, sekaligus memastikan pasien memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal sebelum kembali ke keluarganya. (Rdi)













Discussion about this post