Lamanesia.com – Sebanyak 54 pelatih dan asisten pelatih cabang olahraga (cabor) di Provinsi Jambi mendapat pembekalan ilmu kepelatihan dari pakar sport science, Dr Iwan Hermawan, M.Pd., CSC.ITK, dalam kegiatan penataran yang diselenggarakan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jambi, Kamis.
Dalam pemaparannya, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut menekankan pentingnya penerapan metode latihan daya tahan dan pengelolaan sistem energi atlet agar mampu mencapai performa terbaik saat bertanding, khususnya dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Menurut Dr Iwan, pelatih harus mampu menyusun program latihan berbasis kontinum energi yang bertujuan meningkatkan kemampuan atlet menghasilkan performa maksimal sekaligus mempertahankan daya tahan selama pertandingan.
Ia menjelaskan, pembentukan daya tahan atlet didukung oleh tiga pilar utama sistem energi, yaitu fosfagen (anaerobic alactic), glikolitik (anaerobic lactic), dan oksidatif (aerobic). Ketiga sistem tersebut harus dilatih secara proporsional sesuai karakteristik cabang olahraga masing-masing.
Selain itu, Dr Iwan juga memperkenalkan metode kalibrasi diagnostik untuk mengukur Maximal Aerobic Speed (MAS). Pengujian dilakukan dengan meminta atlet berlari sejauh mungkin secara konsisten selama lima menit atau 300 detik, sehingga pelatih dapat menentukan intensitas latihan yang tepat.
Dalam sesi materi, ia menguraikan enam zona latihan aerobik yang menjadi acuan dalam penyusunan program latihan. Zona satu hingga tiga difokuskan pada latihan berkelanjutan dengan durasi sekitar 20 menit untuk membangun fondasi daya tahan. Zona empat digunakan untuk meningkatkan ambang laktat, sedangkan zona lima diarahkan pada peningkatan kapasitas aerobik melalui latihan intensitas tinggi. Adapun zona enam merupakan latihan supra maksimal yang bertujuan mengoptimalkan kemampuan mesin aerobik atlet.
Tak hanya itu, Dr Iwan juga menjelaskan metodologi latihan aerobik yang meliputi peningkatan kapasitas dan volume latihan, interval intensitas tinggi, hingga paradigma latihan anaerobik yang berorientasi pada peningkatan daya tahan ledak tanpa ketergantungan terhadap pasokan oksigen.
“Latihan anaerobik bisa memicu adaptasi neurologis dan otot tanpa bergantung pada pasokan oksigen, sehingga menghasilkan power atau kekuatan yang besar. Namun latihan ini juga mengakibatkan akumulasi kelelahan yang sangat tinggi sehingga harus dirancang secara tepat,” jelasnya.
Ia juga mengelompokkan kebutuhan latihan berdasarkan karakteristik cabang olahraga. Untuk kelompok endurance atau daya tahan, seperti atletik jarak jauh dan renang, diperlukan dominasi latihan aerobik. Sementara cabang olahraga yang mengandalkan kekuatan atau power, seperti angkat besi dan lari sprint 100 meter, membutuhkan pendekatan latihan yang berbeda.
Sedangkan olahraga yang memadukan kekuatan dan aktivitas berulang (intermittent), seperti sepak bola, bola basket, dan berbagai cabang bela diri, memerlukan kombinasi latihan aerobik dan anaerobik. Adapun cabang olahraga yang mengutamakan konsentrasi serta presisi, seperti panahan, menembak, dan e-sport, membutuhkan pendekatan latihan yang lebih spesifik.
Dr Iwan berharap ilmu yang diperoleh para pelatih dalam penataran ini dapat diterapkan dalam program latihan masing-masing sehingga mampu meningkatkan kualitas atlet Jambi dan mendongkrak prestasi pada ajang PON 2028.
“Hal-hal tersebut perlu menjadi perhatian para pelatih di Jambi agar atlet yang dibina mampu tampil maksimal dan meraih prestasi pada PON 2028,” tegasnya. (mat)













Discussion about this post