Lamanesia.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jambi mencatat perputaran anggaran fantastis mencapai Rp7,2 miliar setiap hari. Dana jumbo tersebut disebut tidak hanya untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat di seluruh wilayah Jambi.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, menegaskan bahwa aliran dana dari pemerintah pusat tersebut langsung menyentuh masyarakat di 11 kabupaten/kota.
“Uang dari pemerintah pusat dialirkan ke Jambi untuk MBG di 11 kabupaten/kota total Rp7,2 miliar per hari,” tegasnya saat konferensi pers di Hotel BW Luxury, Sabtu (2/5/2026).
Dari total anggaran harian tersebut, sekitar Rp4,1 miliar dialokasikan untuk pembelian bahan pangan mentah dari petani dan peternak lokal. Sementara Rp881,5 juta digunakan untuk biaya operasional pendukung program.
Sony menjelaskan, MBG dirancang tidak hanya sebagai program bantuan pangan, tetapi juga sebagai skema padat karya yang terstruktur. Saat ini, terdapat 212 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jambi yang menyerap 9.357 tenaga kerja, mayoritas berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan terendah.
Para pekerja tersebut menerima upah rata-rata Rp100 ribu per hari, dengan total alokasi honor mencapai Rp963,5 juta setiap harinya.
Lebih jauh, Sony menegaskan bahwa pemberian bantuan dalam bentuk makanan siap santap kepada 446.087 penerima manfaat — yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan peserta didik — merupakan langkah strategis untuk menjamin kualitas gizi masyarakat.
Ia menilai, meskipun bantuan tunai seperti BLT dianggap lebih fleksibel, namun belum tentu menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi seimbang.
“Intervensi pemerintah ini memastikan asupan gizi yang seimbang. Kalau tidak ada buah atau protein, pasti diprotes,” ujarnya.
Di sisi lain, Sony juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba memanfaatkan program ini untuk kepentingan pribadi, termasuk praktik monopoli rantai pasok atau penyimpangan dana.
“Kalau ada yang nakal, merekayasa koperasi atau bermain di distribusi, itu harus segera ditertibkan,” tegasnya.
Program MBG di Jambi kini tidak hanya menjadi instrumen peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga dinilai efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan menekan angka kemiskinan secara berkelanjutan. (mat)













Discussion about this post