Lamanesia.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya memperkuat sektor jasa keuangan sebagai motor penggerak transisi menuju ekonomi rendah karbon. Melalui partisipasi aktif dalam London Climate Action Week (LCAW) 2026 di London, Inggris, OJK memperluas kolaborasi internasional sekaligus memperkenalkan berbagai kebijakan dan inovasi pembiayaan hijau guna menarik minat investor global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa keuangan berkelanjutan kini bukan lagi sekadar agenda sukarela, melainkan telah menjadi bagian dari regulasi yang mengarahkan industri jasa keuangan dalam mengelola risiko iklim, menyalurkan pembiayaan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam berbagai forum internasional yang dihadiri regulator, investor, akademisi, hingga pelaku industri keuangan dunia, OJK menekankan pentingnya membangun ekosistem pembiayaan yang kredibel, transparan, dan mampu menjaga kepercayaan investor untuk mendukung transformasi ekonomi Indonesia.
Menurut Friderica, tantangan utama Indonesia bukan hanya menyediakan sumber pembiayaan, tetapi memastikan dana tersebut mengalir ke proyek-proyek transisi yang layak, memiliki dampak nyata, serta mampu memperkuat daya saing ekonomi nasional sekaligus mendukung target net zero emissions pada 2060 atau lebih cepat.
Sebagai bagian dari penguatan arsitektur keuangan berkelanjutan, OJK terus menyempurnakan berbagai regulasi, mulai dari Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), penguatan pelaporan keberlanjutan, penerapan Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS), hingga penyusunan revisi POJK tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan yang ditargetkan terbit tahun ini.
OJK juga memperkenalkan Satu Karsa, platform blended finance yang dikembangkan bersama Kementerian Kehutanan untuk mendukung proyek karbon berbasis alam seperti reforestasi, agroforestri, pemulihan lahan kritis, hingga pemberdayaan masyarakat. Inisiatif ini diharapkan mampu menarik investasi jangka panjang sekaligus menghasilkan kredit karbon berkualitas tinggi.
Di sisi lain, OJK terus memperkuat integritas pasar karbon nasional melalui pengawasan perdagangan karbon di Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon). Hingga kini, transaksi di bursa karbon telah mencapai sekitar dua juta ton CO₂ ekuivalen dengan nilai lebih dari Rp93 miliar, menunjukkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap mekanisme perdagangan karbon di Indonesia.
Selain menghadiri berbagai forum internasional, OJK juga melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan lembaga global, termasuk London School of Economics (LSE) dan The Network for Greening the Financial System (NGFS), guna memperkuat kerja sama dalam pengembangan pembiayaan transisi, pengelolaan risiko iklim, serta peningkatan kapasitas regulator.
Melalui langkah tersebut, OJK optimistis sektor jasa keuangan Indonesia mampu menjadi katalis pertumbuhan ekonomi hijau yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem keuangan berkelanjutan di tingkat global. (pin)













Discussion about this post