Lamanesia.com — Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan (Pusakademia) menggelar Youth Digital Action (YDA) 2026, sebuah program edukasi dan kampanye digital yang mendorong generasi muda tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi agen edukasi dan perubahan bagi masyarakat.
Mengawali rangkaian program tersebut, YDA 2026 edisi pertama mengangkat tema “Anak Muda Peduli, Karhutla Terkendali” dengan fokus pada kampanye generasi muda peduli dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui media sosial.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Selasa, 6 Oktober 2026, pukul 07.30–09.10 WIB ini merupakan kolaborasi Pusakademia dengan Manggala Agni Korwil Provinsi Jambi, didukung oleh Polda Jambi serta rekan-rekan media.
Sekitar 80 pemuda dan pemudi terlibat dalam YDA edisi perdana ini. Mereka tidak hanya mengikuti pembekalan, tetapi juga akan menghasilkan berbagai poster edukasi Karhutla yang dipublikasikan melalui media sosial untuk mengajak masyarakat lebih peduli dan terlibat dalam upaya pencegahan Karhutla.
Kegiatan menghadirkan Sandy Prabowo, S.Hut., Kadaop Manggala Agni Sumatera XI/Bukit Tempurung, sebagai narasumber. Sementara Direktur Pusakademia, Dr. Mochammad Farisi, LL.M., memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.
Program YDA Karhutla dilaksanakan dalam dua bagian utama, yaitu Materi/Pelatihan Class dan Pelaksanaan Digital Project.
Dalam sesi pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengenalan Karhutla dan penyebabnya, dampak Karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan, peran generasi muda, serta pentingnya edukasi dan kampanye publik.
Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi Jambi karena penanganan Karhutla 2026 menekankan upaya penanggulangan tidak cukup dilakukan melalui pemadaman, tetapi juga membutuhkan pencegahan, pemantauan, patroli, edukasi masyarakat, partisipasi publik, dan sinergi berbagai pihak.
Generasi Muda Harus Menjadi Agen Edukasi
Direktur Pusakademia Dr. Mochammad Farisi, LL.M., mengatakan bahwa YDA dirancang untuk mengubah pola edukasi generasi muda dari sekadar menerima informasi menjadi memahami persoalan, memeriksa informasi, menghasilkan pesan edukatif, dan mengajak masyarakat melakukan aksi nyata.
“Generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis sebagai agen edukasi dan perubahan. Melalui media sosial, anak muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi dapat menjadi produsen pesan yang edukatif, faktual, dan mampu meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam mencegah Karhutla dan memitigasi dampaknya.”
Menurut Farisi, persoalan Karhutla tidak dapat hanya dilihat sebagai persoalan pemerintah atau aparat. Pencegahan membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk generasi muda yang memiliki kemampuan menjangkau publik secara cepat melalui media digital.
“Karena itu, YDA tidak berhenti pada seminar atau penyampaian materi. Setelah mendapatkan pengetahuan, peserta akan mengolahnya menjadi kampanye digital. Mereka belajar mencari dan memeriksa informasi, membuat konten edukatif, mempublikasikannya, kemudian melihat sejauh mana pesan tersebut mendapatkan respons dari masyarakat.”
Pola tersebut menjadi inti metode YDA yang dirumuskan dalam lima tahapan: LEARN → CHECK → CREATE → ACT → IMPACT
Dari Belajar Menjadi Aksi Digital
Pada tahap LEARN, peserta memahami materi dan persoalan Karhutla dari narasumber yang kompeten. Selanjutnya pada tahap CHECK, peserta diwajibkan melakukan pengecekan terhadap informasi yang akan digunakan dalam kampanye, sehingga konten yang dibuat tidak sekadar menarik secara visual, tetapi juga memiliki dasar informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada tahap CREATE, peserta menyusun dan membuat poster kampanye digital mengenai pencegahan Karhutla. Tahap berikutnya adalah ACT, yaitu mempublikasikan karya melalui media sosial dan mengajak masyarakat untuk ikut peduli terhadap pencegahan Karhutla.
Terakhir, pada tahap IMPACT, peserta melihat dan mengukur respons masyarakat terhadap kampanye yang mereka lakukan melalui engagement media sosial.
Dengan demikian, peserta tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan desain, tetapi juga berdasarkan kemampuan mereka membangun pesan edukatif dan menjangkau masyarakat.
Manggala Agni Dukung Peran Generasi Muda
Narasumber YDA 2026, Sandy Prabowo, S.Hut., menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Pusakademia yang melibatkan generasi muda dalam kampanye pencegahan Karhutla.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena pencegahan Karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Generasi muda memiliki kemampuan dan ruang yang sangat besar untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan kepada masyarakat melalui media sosial.”
Menurut Sandy, edukasi mengenai Karhutla perlu terus diperluas agar masyarakat memahami bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada hanya bertindak ketika kebakaran sudah terjadi
“Kami berharap generasi muda tidak hanya memahami materi yang disampaikan hari ini, tetapi kemudian meneruskannya kepada lingkungan masing-masing. Media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengedukasi masyarakat agar semakin peduli terhadap lingkungan dan bersama-sama mencegah Karhutla.”
Keterlibatan Manggala Agni dalam kegiatan tersebut juga memperkuat pendekatan YDA yang menghubungkan pengetahuan akademik, pengalaman praktis di lapangan, dan aksi digital generasi muda.
Karya dengan Engagement Tertinggi Berpeluang Menjadi Juara
Setelah mengikuti kelas, peserta akan melanjutkan kegiatan membuat poster kampanye berdasarkan isu Karhutla yang telah dipelajari dan diverifikasi. Poster kemudian dipublikasikan melalui media sosial dengan pesan yang bersifat edukatif, faktual, positif, dan mendorong partisipasi masyarakat.
Salah satu aspek yang menjadi penilaian adalah tingkat engagement terhadap konten yang dipublikasikan. Dengan demikian, karya yang mampu memperoleh respons publik yang tinggi akan menjadi Poster Terbaik YDA Karhutla 2026 dan mendapatkan hadiah menarik.
Konsep ini sekaligus memberikan pengalaman kepada mahasiswa bahwa kampanye publik tidak berhenti pada proses membuat konten, tetapi harus mampu menjangkau, mengedukasi, dan menggerakkan audiens.
YDA Akan Berlanjut ke Demokrasi dan Integritas Pemilu
Pusakademia menegaskan bahwa kegiatan Karhutla merupakan YDA edisi pertama dari rangkaian Youth Digital Action 2026.
Setelah mengangkat isu lingkungan dan pencegahan Karhutla, YDA 2026 selanjutnya akan mengangkat isu demokrasi dan integritas Pemilu, hak asasi manusia, pencegahan narkoba, wawasan kebangsaan, serta berbagai isu sosial lainnya.
Setiap tema akan dikembangkan melalui kolaborasi dengan lembaga dan pemangku kepentingan yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing.
Untuk edisi kedua, YDA akan mengangkat tema: “Anak Muda Bergerak, Demokrasi Berdampak”, dengan fokus kampanye penguatan demokrasi, hak pilih, dan integritas Pemilu melalui media sosial.
Pada edisi berikutnya, generasi muda akan diajak memahami demokrasi, hak pilih, integritas Pemilu, pengawasan partisipatif, serta tantangan demokrasi di ruang digital, kemudian menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam kampanye digital yang kreatif dan edukatif.
Rangkaian YDA 2026 diharapkan menjadi model pembelajaran yang menghubungkan pendidikan, kreativitas digital, partisipasi masyarakat, dan ksi nyata generasi muda.
“Kami ingin YDA menjadi ruang belajar yang membuat anak muda bergerak dari tahu menjadi peduli, dari peduli menjadi berkarya, dan dari berkarya menjadi memberikan dampak. Setelah Karhutla, kita akan membawa semangat yang sama ke isu demokrasi dan integritas Pemilu,” tutup Farisi.







Discussion about this post