Lamanesia.com – Upaya memulihkan kelestarian Bentang Alam Bukit Tigapuluh terus menunjukkan hasil positif. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 30.523 bibit pohon dari 28 jenis tanaman telah berhasil ditanam di wilayah Kabupaten Tebo melalui program restorasi berbasis masyarakat yang diinisiasi WWF Indonesia bersama berbagai mitra.
Gerakan penghijauan ini melibatkan 112 petani lokal yang tergabung dalam tujuh kelompok tani. Mereka bukan hanya menjadi pelaksana, tetapi juga menjadi motor utama dalam seluruh proses restorasi, mulai dari penyediaan bibit, penanaman, hingga perawatan tanaman.
Capaian tersebut dipaparkan dalam kegiatan diseminasi hasil liputan dan pemutaran film yang digelar WWF Indonesia bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi di Kantor Bappeda Litbang Kabupaten Tebo, Jumat (26/6/2026). Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, BKSDA Jambi, KPHP, organisasi lingkungan, hingga kalangan media.
Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia, Nazli Herimsyah, menjelaskan bahwa program restorasi ini mengusung konsep “farmer to farmer”, yakni menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pemulihan kawasan hutan.
Menurutnya, program tersebut memiliki tiga tujuan utama, yakni memulihkan lahan yang rusak, meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta mengurangi konflik antara manusia dengan satwa liar.
Menariknya, dari 28 jenis tanaman yang ditanam, sebanyak 25 jenis bibit berasal dari hasil pembibitan masyarakat sendiri. WWF Indonesia juga memberikan pendampingan melalui pembangunan rumah pembibitan, pelatihan pembuatan pupuk kompos, mitigasi konflik satwa, hingga pemanfaatan aplikasi digital untuk memantau pertumbuhan tanaman.
Nazli mengungkapkan, kondisi Bentang Alam Bukit Tigapuluh saat ini cukup memprihatinkan. Dari total luas kawasan lebih dari 350 ribu hektare, tutupan hutannya hanya tersisa sekitar 40 persen. Padahal kawasan ini merupakan habitat penting bagi gajah Sumatera, harimau Sumatera, serta berbagai satwa dilindungi lainnya.
Karena itu, menurutnya diperlukan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan upaya konservasi agar kelestarian kawasan tetap terjaga.
Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko. Ia menilai penyelamatan Bentang Alam Bukit Tigapuluh hanya dapat dilakukan melalui kolaborasi seluruh pihak, mengingat kawasan tersebut membentang di beberapa kabupaten dan menjadi benteng terakhir bagi populasi gajah Sumatera di Jambi yang diperkirakan tersisa sekitar 96 hingga 129 ekor.
Himawan menegaskan masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek utama dalam pengelolaan kawasan karena merekalah yang setiap hari hidup berdampingan dengan hutan sekaligus menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Ia juga mendorong lahirnya berbagai peluang ekonomi ramah lingkungan, termasuk pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, sehingga warga memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus mengorbankan habitat satwa liar.
Sementara itu, perwakilan AJI Jambi, Suang Sitanggang, yang turut melakukan peliputan langsung di lokasi restorasi menilai keberhasilan program ini tidak lepas dari tingginya partisipasi masyarakat.
Ia menyebut warga tidak hanya menanam pohon, tetapi ikut menyediakan bibit, merawat tanaman hingga memastikan keberlanjutan program. Keterlibatan sejak awal membuat rasa memiliki masyarakat terhadap tanaman menjadi jauh lebih kuat dibanding program penghijauan pada umumnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan seperti serangan hama, banjir, hingga kendala teknis budidaya, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman dinilai cukup tinggi. Bagi para petani, pohon-pohon yang mereka tanam kini menjadi investasi jangka panjang yang diharapkan mampu menopang perekonomian keluarga sekaligus menjaga kelestarian hutan.
Melalui diseminasi hasil restorasi ini, seluruh pihak sepakat bahwa sinergi antara pemerintah, masyarakat, organisasi lingkungan, dunia usaha, dan media menjadi fondasi utama untuk menjaga Bentang Alam Bukit Tigapuluh tetap lestari, sehingga mampu menjadi ruang hidup yang aman bagi satwa liar sekaligus sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. (Rdi)








Discussion about this post