Lamanesia.com – Suasana peringatan Hari Jadi Tanah Pilih Pusako Betuah ke-625 dan Hari Ulang Tahun ke-80 Pemerintah Kota Jambi yang berlangsung khidmat di Gedung DPRD Kota Jambi, Selasa (2/6/2026), mendadak diwarnai aksi protes ratusan warga korban kebijakan zona merah Pertamina.
Saat rapat paripurna berlangsung di dalam gedung, ratusan warga memadati halaman DPRD Kota Jambi dengan membawa spanduk, poster tuntutan, hingga replika pocong yang menjadi simbol kekecewaan mereka terhadap lambannya penyelesaian persoalan zona merah yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Aksi yang didominasi kaum ibu tersebut berlangsung penuh emosi. Secara bergantian, para peserta menyampaikan tuntutan agar pemerintah, DPRD, dan Pertamina segera memberikan kepastian hukum terhadap 5.506 sertifikat tanah warga yang disebut terblokir karena berada di kawasan zona merah.
Dalam orasinya, warga menegaskan kesabaran mereka telah mencapai batas. Mereka meminta penyelesaian konkret dan mengingatkan bahwa aksi yang lebih besar bisa dilakukan apabila tuntutan terus diabaikan.
“Kami sudah terlalu lama menunggu. Hari ini kami berharap menjadi aksi terakhir. Jika tidak ada penyelesaian, kami siap melakukan langkah yang lebih besar,” seru salah seorang orator yang disambut teriakan dukungan dari massa.
Menurut warga, persoalan zona merah tidak hanya menyangkut administrasi pertanahan, tetapi telah berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Ribuan pemilik lahan mengaku kehilangan kepastian hukum atas aset mereka, mengalami kesulitan mengurus sertifikat, menjual tanah, hingga mengakses pembiayaan dari lembaga perbankan.
Tak hanya pemerintah dan Pertamina, DPRD Kota Jambi juga menjadi sasaran kritik dalam aksi tersebut. Massa menilai lembaga legislatif belum menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap perjuangan warga yang terdampak kebijakan zona merah.
Sejumlah peserta aksi mengaku telah berulang kali mengundang anggota DPRD dalam berbagai pertemuan dan rembuk warga terkait persoalan tersebut. Namun, mereka menilai respons yang diberikan masih jauh dari harapan masyarakat.
“Kami butuh solusi nyata. Persoalan ini sudah terlalu lama dan menyangkut masa depan ribuan keluarga,” ujar salah seorang peserta aksi.
Replika pocong yang dibawa massa menjadi perhatian tersendiri. Simbol tersebut disebut sebagai bentuk kritik terhadap para pemangku kebijakan yang dinilai belum menunjukkan langkah cepat dalam menyelesaikan persoalan yang membelit ribuan warga Kota Jambi.
Momentum hari jadi Kota Jambi sengaja dipilih warga untuk menyampaikan pesan bahwa di tengah berbagai capaian pembangunan yang dipaparkan pemerintah, masih ada persoalan mendasar yang belum terselesaikan dan terus membayangi kehidupan masyarakat.
Melalui aksi itu, warga mendesak Pemerintah Kota Jambi, DPRD Kota Jambi, Pertamina, hingga pemerintah pusat segera duduk bersama guna mencari solusi konkret terhadap persoalan zona merah yang dinilai telah menjadi bom waktu sosial di tengah masyarakat.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi hingga kegiatan berakhir. (Rdi)















Discussion about this post