Lamanesia.com – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang mencapai sekitar Rp18.200 mulai memberikan dampak terhadap harga perangkat elektronik, khususnya ponsel di Kota Jambi.
Sejumlah toko ponsel mencatat adanya kenaikan harga yang cukup signifikan akibat meningkatnya biaya komponen utama perangkat, seperti RAM dan chipset. Kenaikan tersebut membuat harga beberapa tipe ponsel mengalami lonjakan mulai dari ratusan ribu hingga hampir Rp1 juta per unit.
Sales Leader Vivo Store, Ari Ramanda (31), mengatakan kenaikan harga ponsel tidak hanya dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah, tetapi juga meningkatnya permintaan komponen teknologi dari industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, perusahaan-perusahaan AI saat ini banyak membutuhkan perangkat pendukung seperti chipset dan RAM dalam jumlah besar, sehingga turut memengaruhi ketersediaan dan harga komponen tersebut di pasar.
“Untuk kenaikan harga handphone, kisarannya sekitar Rp300 ribu sampai Rp900 ribu per unit. Ponsel yang sebelumnya harga Rp2 juta, sekarang bisa menjadi Rp3 jutaan,” ujar Ari.
Kondisi tersebut turut berdampak pada daya beli masyarakat. Ari menyebutkan, jumlah pembelian di tokonya mengalami penurunan sekitar 20 persen dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, masyarakat tetap melakukan pembelian karena toko menyediakan berbagai pilihan pembayaran, termasuk tunai dan kredit. Bahkan, saat ini pembelian melalui sistem cicilan lebih banyak diminati konsumen.
“Kalau dibandingkan, lebih banyak yang kredit. Misalnya dari 10 pelanggan dalam sehari, sekitar enam pelanggan memilih kredit dan empat lainnya membayar tunai,” jelasnya.
Ari berharap harga chipset dan RAM dapat kembali turun agar harga ponsel di pasaran lebih stabil. Selain itu, ia juga berharap nilai tukar dolar terhadap rupiah dapat kembali melemah sehingga biaya produksi perangkat elektronik ikut terkendali.
Sementara itu, sejumlah konsumen mengaku lebih memilih membeli ponsel secara tunai meskipun harus menyiapkan dana lebih besar. Salah satunya Naura Sabila (19), yang membeli ponsel iPhone 13 Basic dengan kapasitas penyimpanan 128 GB seharga Rp11,5 juta.
Naura menilai pembelian tunai lebih praktis dibandingkan kredit karena tidak perlu memikirkan cicilan setiap bulan.
“Kalau kredit kan setiap bulan harus bayar sekitar sejutaan lebih. Daripada memikirkan cicilan karena masih banyak pengeluaran lain, lebih baik bayar cash,” katanya.
Ia mengaku tidak mengetahui adanya kenaikan harga ponsel akibat perubahan nilai tukar dolar. Namun, menurutnya, harga ponsel memang cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Hal serupa disampaikan Afrillia Ziranty (23), yang juga lebih memilih membeli ponsel secara tunai. Menurutnya, pembelian kredit dapat membuat harga akhir menjadi lebih mahal karena adanya tambahan biaya cicilan.
“Kalau beli kredit ada bunga cicilannya, bisa jadi lebih mahal. Kalau cash memang lebih murah, tetapi harus menabung dulu,” ujarnya.
Kenaikan harga ponsel ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha dan konsumen, terutama di tengah kebutuhan masyarakat terhadap perangkat digital yang terus meningkat. (pin)















Discussion about this post