Lamanesia.com – Musim pancaroba yang ditandai dengan perubahan cuaca tidak menentu menjadi periode yang perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur). Pada masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau ini, risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) meningkat akibat berkembangnya populasi nyamuk Aedes aegypti.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjab Timur mencatat hingga Mei 2026 terdapat delapan kasus DBD yang tersebar di wilayah kabupaten pesisir Provinsi Jambi tersebut. Dari jumlah itu, Kecamatan Muara Sabak Barat menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni lima kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tanjab Timur, Eko Purnomo, mengatakan bahwa jumlah kasus tahun ini masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 87 kasus. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Walaupun menurun, potensi penularan tetap ada, terutama di musim pancaroba seperti sekarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meningkatnya risiko DBD dipengaruhi beberapa faktor, seperti banyaknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk, perubahan cuaca yang tidak menentu, serta menurunnya daya tahan tubuh masyarakat.
Menurutnya, DBD tidak hanya mengancam saat musim hujan, tetapi juga pada masa peralihan musim ketika lingkungan tidak terjaga dengan baik.
Dinas Kesehatan Tanjab Timur mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menggunakan lotion anti nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi rumah, serta memelihara ikan pemakan jentik sebagai langkah pencegahan tambahan.
“Dengan upaya bersama, kami berharap angka kasus DBD dapat terus ditekan dan tidak meningkat selama musim pancaroba,” pungkasnya. (Rdi)








Discussion about this post