Lamanesia.com – Sejumlah petani jagung di Kabupaten Merangin, Jambi, mengeluhkan sikap Perum Bulog yang dinilai kerap menolak hasil panen mereka. Penolakan tersebut disebut terjadi di tengah masa panen raya, ketika petani berharap hasil produksi dapat terserap maksimal sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.
Keluhan ini terutama datang dari kelompok tani di Kecamatan Tabir Ulu. Mereka menilai standar kualitas yang diterapkan terlalu memberatkan, khususnya terkait kadar air maksimal 14 persen dan syarat bebas jamur.
Salah satu perwakilan kelompok tani mengaku kecewa karena jagung yang telah dikeringkan tetap tidak diterima.
“Kami sudah menurunkan kadar air dari jagung, tapi malah jamur lagi yang dipermasalahkan oleh Bulog. Kalau seperti ini bagaimana kami mau hidup? Hasil tani kami ditolak terus. Menanam ini bukan tanpa modal. Artinya program pemerintah ini bohong,” ujarnya dengan nada kecewa.
Para petani berharap ada kebijakan yang lebih fleksibel, terutama saat panen raya, agar hasil produksi mereka tetap dapat terserap dan tidak merugi. Mereka juga menyinggung bahwa program ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sehingga diharapkan implementasinya benar-benar berpihak kepada petani di lapangan.
Sementara itu, Kepala Gudang Bulog Merangin, Rinoy, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya tetap mengacu pada standar kualitas yang telah ditetapkan.
“Kendalanya kita harus cek dahulu, masalah kadar air dan jamur. Kalau jagungnya bersih dan kadar air sesuai, kita terima,” ujarnya singkat.
Polemik ini menjadi perhatian karena di satu sisi pemerintah mendorong peningkatan produksi jagung sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional, namun di sisi lain petani mengaku kesulitan menjual hasil panennya akibat standar kualitas yang ketat. Diharapkan ada solusi konkret agar kepentingan petani dan standar mutu tetap dapat berjalan beriringan. (mat)













Discussion about this post